Minggu 6 Apr 2025

Notification

×
Minggu, 6 Apr 2025

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Lalai, Dikes dan RSUD Ditegur

22 Januari 2013 | Selasa, Januari 22, 2013 WIB Last Updated 2013-01-21T17:00:02Z

Kota Bima, (SM).- Kelalaian yang dilakukan jajaran RSUD Kabupaten Bima dan Dinas Kesehatan Kota Bima dalam menangani pasien hamil yang dirujuk ke RS Mataram, akhirnya dua lembaga tersebut mendapat surat teguran dari RS Mataram. Bagaimana tidak, pasien sudah tak didampingi bidan, malah melahirkan di jalan depan RS Mataram pula.
Informasi yang dihimpun koran ini, saat pasien hamil yang tak bisa ditangani oleh salah seorang dokter RSUD Bima, akhirnya di rujuk ke RS Mataram untuk perawatan lebih lanjut. Harapan bisa melahirkan dengan baik dengan alat yang lebih mutakhir, ternyata tidak. Pasien malah melahirkan di jalan depan RS Mataram.
Mirisnya lagi, pasien rujukan yang mestinya didampingi Bidan atau tenaga medis, justru membiarkan pasien berangkat sendiri dengan menggunakan mobil Ambulance dari Dinas Kesehatan Kota Bima. “Pasien akhirnya tidak mendapatkan perawatan. Karena terlanjur melahirkan di atas mobil Ambulance,” ujar sumber yang juga seorang dokter, kepada Koran ini, Ahad kemarin.
Menurutnya, pasien yang dirujuk memang harus didampingi oleh tenaga medis. Agar di perjalanan bisa di kontrol dan di perhatikan perkembangan penyakit yang diderita. “Masih untung melahirkannya sudah dekat RS Mataram. Bagaimana jika pasien itu melahirkan diperjalanan yang susah dimintai bantuan,” katanya.
Menjawab itu, Humas RSUD Bima, dr. H. Sucipto yang ditemui Senin kemarin mengakui jika pihaknya menerima surat teguran dari RS Mataram tersebut beberapa waktu lalu. Namun pasien yang dimaksud bukanlah pasien dari RSUD Bima. “Karena infeksi berat dan takut terjadi apa-apa, dokter yang menangani akhirnya menyarankan untuk dirujuk ke RS Mataram,” jelasnya.
Masalah kenapa tak didampingi oleh bidan, ia melanjutkan, pasien tersebut bukanlah pasien RSUD Bima, melainkan warga Kota Bima yang ditangani oleh salah seorang dokter. “Pasien yang dimaksud mendapatkan rekomendasi dari Dikes Kota dan berangkat menggunakan mobil Ambulance Kota Bima. Jadi bidan yang mendampingi adalah bidan yang ada di Kota Bima,” tuturnya.
Kata Sucipto, setahu mereka, untuk urusan keikutsertaan tenaga medis untuk mendampingi pasien rujukan, Dikes Kota Bima tidak menyediakan anggarannya. “Mungkin karena tak ada anggaran itulah, bidan asal Kota juga enggan berangkat untuk mendampingi pasien tersebut,” tandasnya.
Direktur RSUD Bima, dr. H. Ali mengakui juga telah menerima surat teguran tersebut. Kata dia, pasien yang dimaksud di rujuk oleh salah seorang dokter kandungan dan Dikes Kota Bima menyanggupi untuk menyediakan mobil ambulance beserta tenaga medisnya. “Setelah saya hubungi Kepala Dikes Kota dr. Agus Dwi Pitono MARS, dia sudah menyuruh salah seorang bidan untuk ikut, tapi yang bersangkutan tidak berangkat,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Dikes Kota dr. Agus Dwi Pitono MARS yang ditemui menjelaskan, setelah mendapatkan rujukan dari dokter yang menangani pasien itu, pihaknya kemudian memperbolehkan untuk menggunakan mobil Ambulance milik Dikes Kota. Bahkan sudah menandatangani surat keberangkatan bidan yang akan mendampingi. “Bidan nya sudah kita tunjuk. Mestinya sore hari itu bidan yang sudah disuruh berangkat. Namun bidan tersebut beralasan boleh tidak didampingi karena belum ada tanda melahirkan,” katanya.
Mengenai anggaran, Kata dr. Agus, pihaknya sudah mempersiapkan untuk tenaga medis yang berangkat mendampingi pasien rujukan. “Anggarannya ada dan sudah disiapkan,” akunya.
Menurut Agus, mestinya yang merujuk berangkat ke RS Mataram itu RSUD Bima, karena Kota Bima belum memiliki RSUD.  “Ini miskomunikasi. Kita juga membahas persoalan ini dengan pihak RSUD Bima. dan memastikan peristiwa seperti ini tak terjadi lagi,” terangnya.
Mengenai surat teguran, ia menambahkan, pihaknya sudah terima surat itu, bahkan sudah ditindaklanjuti. “Bidan juga sudah kita panggil untuk diberikan pembinaan,” tambahnya. (BNQ)
×
Berita Terbaru Update