Bima,
(SM).- Hingga kini kepastian lokasi
pemakaman jenazah Bahtiar, terduga teroris yang ditembak Densus 88 Mabes Polri
di Kabupaten Dompu belum ada kepastian. Namun keluarga berharap bisa dikuburkan
di Bima.
Harapan
tersebut disampaikan Nuraini, istri Bahtiar, saat dikonfirmasi di kediamannya
di Desa Timu Kecamatan Bolo, kemarin. Bukan hanya Nuraini yang menaruh harapan
itu, tetapi keluarga Bahtiar pun demikian. “Kami sangat inginkan jenazah
almarhum bisa dimakamkan di Bima,” pintanya berharap.
Keinginan
keluarga penjual jajan kering dan kerupuk itu bertolak belakang dengan
keputusan yang dibuat perwakilan warga Desa Timu. Semula, perwakilan warga Desa
Timu mengadakan rapat tanggal 8 Januari 2013. Rapat itu memutuskan, penolakan
jenazah almarhum untuk dimakamkan di TPU Desa Timu. Belakangan, TPFR Bima
lakukan mediasi.
Kemudian
diadakan rapat ulang tanggal 14 Januari 2013 dengan perwakilan masyarakat yang
dihadiri unsur lembaga Desa dan aparatur Pemerintah Desa Timu dan perwakilan
Pemerintah Kecamatan Bolo yang melahirkan keputusan menerima pemakaman jenazah,
Bahtiar.
Belakangan
lagi, hari Jum’at 18 Januari 2013, sekitar 80 orang yang mengatasnamakan
perwakilan warga Desa Timu menandatangani surat penolakan jenazah, Bahtiar,
untuk dimakamkan di TPU Desa Timu dengan empat poin alasan.
Ke
empat poin alasan penolakan dimaksud, yakni untuk menjaga stabilitas keamanan
dan ketertiban masyarakat Desa Timu, jenazah almarhum, Bahtiar, adalah teroris,
untuk menghindari terjadi bentrokan dan untuk menghindari bentrokan dari
gangguan keamanan wilayah sebaiknya pemakaman jenazah Bahtiar dilakukan oleh
pihak Pemerintah atau aparat terkait tetapi bukan dilakukan di Desa Timu.
Almarhum,
Bahtiar, ditembak mati Densus 88 Mabes Polri di Desa Mangge Nae Kecamatan Dompu
Kabupaten Dompu tanggal 4 Januari 2013. “Hari ini (kemarin) adalah hari yang ke
16, tapi belum juga ada kepastian,” keluh istri Bahtiar.
Lantaran
kuatnya penolakan warga Desa Timu memakamkan jenazah almarhum di TPU Desa
setempat, muncul inisiatif untuk dilakukan pemakaman di TPU Desa lain, yakni di
Desa Pandai Kecamatan Woha. Kepala Desa Pandai, Sudirman, mengijinkan pemakaman
Bahtiar.
Namun
belum sampai sejam kemudian, Sudirman, mengaku mendapat desakan dari
masyarakatnya yang menolak jenazah almarhum agar tidak dimakamkan di Desa
Pandai. “Nanti kita rapatkan dulu bersama masyarakat,” timpalnya. (Ima)