Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Mutiara Terpendam di Oi Tampuro

17 Desember 2012 | Senin, Desember 17, 2012 WIB Last Updated 2012-12-17T12:21:42Z


Kicauan burung yang hinggap di rimbunan pohon yang masih tersisa, gemericik tak beratur sesekali menerpa air laut yang bersinggungan langsung dengan daratan, seakan jadi saksi, betapa indah panorama di semenanjung utara Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima, tepatnya di Oi Tampuro.

Catatan perjalanan Wartawan Suara Mandiri -Aris Effendi, Dedy Darmawan, Bin Kalman-

SADAM, bocah usia SMP yang tengah bersenda gurau bersama kawan-kawan sebayanya di mata air Oi Tampuro pagi Ahad (16/12), raut keraguan menjawab, nama sebenarnya mata air itu. “Oi Tampuro atau Oi Tampiro. Samapa pae (Sama aja pak, bahasa Bima),“ ujarnya sembari mengaku yang tahu pasti Ama Ka’U (menyebutkan Raja Bima Putra Kahir). Tentu keraguan bocah itu, tidak berbeda bagi warga di dua desa, Oi Saro dan Piong wilayah terdekat mata air itu.
Sebagian dari penduduk sekitar, masih meyakini nama mata air itu, padanan kata Tampu’u ra (mulai) yang bermakna filosofi, gunung berapi tertinggi Tambora yang pernah menyembulkan larva pijar dan bebatuan hingga Benua Eropa dan Amerika, sesaat akan meletus.
Kata Kades Piong, Syarifudin Ahmad, Mada Oi Tampuro dari sejarah panjang yang diterimanya turun temurun dari warga asli sebagai pendatang pertama Rabadompu, sesungguhnya lapang yang gersang dan tandus. Bukan saja di sekitar lokasi dimana Mada Oi (mata air) Tampuro yang terlihat sekarang. Hampir di seluruh wilayah yang masih kawasan gunung Tambora, tidak memiliki sumber air yang memadai sebagai bagian penting dari tatanan kehidupan.
Dulu, kata kepala desa yang terlihat supel ini, Ama Ka’u berujar suatu saat akan ada mata air di sekitar ini. Dan tidak berselang dari titah sang Raja Bima itu, terkabulkan dan bukan saja di sekitar itu, beberapa sumber mata air menyembul di Kecamatan Sanggar.
Meski disayangkan dirinya selaku pejabat tertinggi di desa itu, beberapa kali pengusulan melalui proposal resmi di Pemerintah Kabupaten Bima, guna membendung air laut yang bercampur langsung dengan sumber mata air tawar tersebut. “Beberapa kali diusulkan belum ada realsiasinya. Maunya kami air laut pasang bisa dibendung,“ harapnya.   
Tapi, mendebatkan nama sesungguhnya mata air itu, tidak akan pernah selesai sampai kapanpun. Memandang dan menikmati puluhan mata air disepanjang Mada Oi Tampuro konon ceritanya bersumber dari kawah Gunung Tambora, sungguh bagai Mutiara Sanggar yang terpendam. Di bongkahan cekungan (lubang) besar dengan diameter sebesar kolam ikan di rumah para pejabat, menyembul mata air dengan debit tak terukur besarnya. Sementara disisi depan kubangan besar itu, berderet mata air lainnya yang tidak kalah menyembulkan debit air serupa.
Drs H Arifuddin (mantan Camat Tambora) bersama sejumlah keluarganya yang tengah asyik menikmati sejuknya air tawar yang berdempetan dengan tepi laut Piong, mengaku mandi di mata air menjadi rutinitasnya. “Air ini bisa menghilangkan pegal-pegal dan rematik. Juga bisa menyembuhkan berbagai penyakit,“ ujarnya sesekali memendam sekujur tubuhnya di kedalaman kubangan.
Konon, katanya, air yang menyembul di sejumlah lubang di mata air Tampuro, bisa awet muda dan melanggengkan hubungan rumah tangga.
Sesekali nampak pula, warga sekitar, menggunakan sepeda motor dan puck up yang sudah didesain untuk keperluan mengangkut air. Ternyata bukan saja untuk tempat wisata masyarakat di luar Sanggar, Mada Oi Tampuro merupakan sumber air warga sekitar. Sungguh ini seperti mata rantai tak terpisahkan dan saling membutuhkan.  (bersambung)
×
Berita Terbaru Update