Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Beasiswa SMAN 2 Digelapkan?

27 Desember 2012 | Kamis, Desember 27, 2012 WIB Last Updated 2012-12-27T14:50:21Z
Kota Bima, (SM).- Pendistribusian Beasiswa Khusus Murid Miskin (BKMM) di SMAN 2 Kota Bima tahun 2010 lalu, menuai sorotan dari guru PNS setempat. Dana yang mestinya dibagikan kepada siswa, diduga digelapkan oknum guru setempat yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kesiswaan setempat. Ironisnya, data penerima beasiswa tersebut diduga fiktif.
Guru PNS SMAN 2 Kota Bima, Abdul Hafid, S.Pd kepada Koran ini membeberkan, BKMM tahun 2010 lalu sebagian besar tidak disampaikan kepada siswa yang berhak menerimanya. Kalaupun ada yang terima, namun hanya setengah saja. Sisanya, raib. “Saya punya data BKMM yang tahun 2010 lalu. Selain banyak fiktif, uang beasiswa juga banyak tak diterima oleh siswa. Kalaupun ada yang terima, hanya setengahnya saja,” bebernya, Selasa (25/12).
Menurutnya, saat penjaringan siswa yang mendapatkan BKMM juga diduga bermasalah. Wakasek Kesiswaan yang menangani itu tidak pernah berkoordinasi dengan wali kelas dan serta guru BK. Padahal kedua guru tersebut berhak untuk mengetahui pasti, siswa mana yang mestinya dijaring untuk mendapatkan BKMM. “Guru-guru yang saya sebutkan itu tim yang akan melakukan ferivikasi. Namun mereka memang tidak diberitahu, bahkan ketika uang itu dicairkan pun tak ada yang mengetahuinya, terlebih siswa sendiri. Intinya penjaringan ini tidak sesuai dengan prosedur,” ungkapnya.
Hafid melanjutkan, data pada tahun itu banyak yang dibuat-buat. Seperti nama orang tua siswa yang tidak sesuai kenyataan. Bahkan ada beberapa nama orang tua siswa yang tertukar dari orang tua lelaki ke orang tua perempuan. “Kami meragukan data tersebut. Semua dibuat untuk kepentingan subyektif mereka,” tegasnya.
Dia menyebutkan, pada tahun 2010 lalu jumlah siswa yang mendapatkan BKMM sebanyak 107 orang. Besarnya beasiswa yang diterima per satu orang siswa per bulan sebanyak Rp65 ribu. “Dikalikan saja Rp65 ribu itu untuk satu orang siswa selama 12 bulan atau satu tahun. Sedangkan besar total beasiswa saat itu kalau tidak salah sebesar Rp85 juta,” sebutnya.
Guru Bahasa Inggris itu menambahkan, yang dibeberkannya itu baru BKMM tahun 2010 lalu. Belum lagi beasiswa lain, dan di tahun berbeda yang juga di duga bermasalah dan tidak tepat sasaran. “Saya melakukan ini karena ingin membersihkan SMAN 2 Kota Bima dari praktek tidak benar semacam itu. Lagi pula banyak guru-guru lain yang mendukung sikap saya ini,” tambahnya.
Di tempat berbeda, Wakasek Kesiswaan SMAN 2 Kota Bima, Arfd yang ditemui di halaman sekolahnya Rabu kemarin, membantah tudingan rekan gurunya. Karena BKMM tahun 2010 lalu sudah dilaksanakan sesuai prosedur dan sudah diterima oleh semua siswa yang namanya sudah terjaring. “Tudingan itu tidak benar, semua sudah dilakukan dengan baik dan tidak ada penggelapan,” tepisnya.
Kata dia, dirinya sebagai Wakasek Kesiswaan hanya mendapat tugas untuk melakukan penjaringan nama siswa. Berikutnya, mengenai penyerahan beasiswa dilakukan oleh bendahara komite. “Dari awal sampai penyerahan beasiswa sudah melalui prosedur. Guru-guru juga dilibatkan. Saat uang cair pun, siswa di beritahu di berbagai kesempatan, termasuk saat upacara,” jelasnya.
Mengenai tak sesuainya nama orang tua siswa, ia mengaku, itu dilakukan asal saja. Karena pertimbangan waktu yang sempit di berikan oleh Dinas Dikpora Kota Bima. “Mengantisipasinya, nama orang tua siswa di tulis begitu saja. Tapi itu hanya beberapa orang saja. Namun yang pasti nama siswa yang berhak mendapatkannya tidak dirubah,” tandasnya.
Arifudin melanjutkan, masalah tersebut sudah dilaporkan oleh salah seorang siswa ke Polisi. Dirinya pun berharap masalah itu cepat tiba di meja Pengadilan, agar bisa diketahui siapa yang sebenarnya melakukan kesalahan. “Jika seandainya nanti saya tidak bersalah, saya akan melaporkan kembali Pak Abdul Hafidz dengan siswa yang melaporkan saya ke polisi,” ancamnya.
Kepala Sekolah SMAN 2 Kota Bima Drs. H. Syahbudin yang dimintai keterangan mengenai hal itu juga membantah keras. Dirinya mengaku BKMM sudah diserahkan semua ke siswa. “Tidak ada yang tidak menerima BKMM itu, semua siswa sudah menerimanya. Bahkan laporannya sudah diserahkan ke Dinas Dikpora Kota Bima dan tembusan ke Dinas Dikpora Provinsi,” ujarnya.
Dia mengaku sangat menyayangkan sikap yang dilakukan oleh Abdul Hafid, S.Pd tersebut. Karena aksi buka-bukaan yang dilakukan oleh guru Bahasa Inggris itu tidak lebih awal melalui dirinya. “Saya ini atasan dia, mestinya lebih awal di beritahu dulu ke saya. Tapi Pak Abdul Hafid, S.Pd melakukan dengan caranya sendiri. Saya anggap dia itu orang yang sakit,” tegasnya. (BNQ)
×
Berita Terbaru Update