Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Siswa SMP Dianiaya Satpam Sekolah

07 Mei 2012 | Senin, Mei 07, 2012 WIB Last Updated 2012-05-08T04:58:11Z

Kota Bima, (SM).- Seorang pelajar MTsN 1 Kota Bima, Elvan Rusandi Akbar (14) dianiya Ir, Satpam sekolah setempat, saat berada di lingkungan sekolah. Akibatnya, Elvan mengalami luka benjol di dahi kirinya. Atas kejadian itu, keluarga Elvan mengadu ke aparat Kepolisian Resort Bima Kota.

Awal dugaan penganiayaan, terjadi sekitar pukul, 10.30 wita. Saat itu, Elvan dan sejumlah kawannya keluar kelas dan berkumpul di lingkungan sekolah karena tak ada guru. Tak berapa lama, Satpam yang tak lain adalah pelaku datang dan menyuruh anak-anak sekolah tersebut untuk masuk sekolah. Melihat, Irvan, seluruh siswa sekolah berhamburan menuju kelas. Sementara, Elvan berjalan dengan santai. “Karena saya jalan, saya kemudian dipukul dari belakang dengan menggunakan batang kayu kelor,” terangnya.
Akibat pukulan dari batang kelor itu, terlihat sebesar jari telunjuk mengenai kepalanya. Lantaran lentur, ujung kayu mengenai dahi bagian kanan. Setelah sampai di kelas, masih tak ada guru. Namun baru beberapa saat masuk kelas, bel tanda pulang sekolah berbunyi. “Di dalam kelas cuma sebentar saja terus bunyi bel, tutur Elvan yang juga disaksikan kakak beserta ibunya. Setelah bel pulang, ia langsung menuju rumahnya.
Meski dalam keadaan dahi benjol, sesampainya di rumah belum ada satu pun keluarga yang tahu peristiwa yang dialami Elvan. Keluarga baru tahu, ketika keluarga curiga lantaran Elvan mengenakan topi dan tiba-tiba meminta untuk pindah sekolah. “Kami bingung kok dia tiba-tiba minta pindah sekolah,” ujar Sovia, ibu kandung Elvan saat ditemui di kediamannya di Kelurahan, Pena Raga, Kecamatan Raba, siang kemarin.
Akhirnya, ia dan keluarga lainnya tahu kalau anaknya tersebut dianiaya di sekolah.
Mengetahui Elvan dianiaya, sontak keluarga pun marah tak terkecuali Khairul kakak kandungnya. Saat itu juga, Khairul kembali mengajak Elvan menuju sekolah guna meminta penjelasan Ir dan pihak sekolah mengenai apa yang dialami adiknya. Namun sesampainya di sekolah, tak ada satu pun guru yang bisa ditemui, terlebih Ir. Hingga akhirnya, Khairul bersama adiknya masuk ke ruang Kepala Sekolah Drs Hasan MPd. Khairul, kakak korban meminta untuk dipanggilkan Ir untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Karena Ir sudah pulang, Hasan tak bisa memenuhi permintaan tersebut. Meski demikian, terang Khairul, Kepala Sekolah juga menyayangkan tindakan Satpam tersebut. Sebab, di setiap arahan pada apel dan Imtaq, dirinya selalu mengingatkan kepada bawahannya untuk tidak ada lagi penganiayaan terhadap siswa seperti yang terjadi di sekolah-sekolah lain. Namun karena tak ada kepastian, Pihaknya pun memilih mengadukan peristiwa tersebut ke aparat Polres Bima Kota. “Adik saya juga sudah divisum di RSUD Bima dan dikawal oleh dua anggota Polisi,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Drs Hasan M.Pd, saat dikonfirmasi di kediamannya membenarkan adanya keluarga siswa yang datang mengadukan penganiayaan. Diakuinya, awalnya dirinya merasa kaget karena tak tahu peristiwa tersebut. “Ada benjolan di kepalannya, sempat saya olesi dengan minyak angin,” terangnya. 
Yang jelas, lanjutnya, siapapun orangnya tak dibenarkan memukul siswa. Apalagi hingga mengakibatkan bekas seperti yang dialami oleh elvan.
Sama seperti yang telah diungkapkannya ke Khairul, bahwa setiap apel dan Imtaq dirinya tetap mewanti-wanti guru untuk tak berlaku kasar terlebih memukul siswa. “Saya paling marah kepada guru kalau ada yang pukul siswa,” ujar Hasan.
Mengenai laporan yang dilayangkan, pihaknya memang sudah tahu. Pihaknya tak bisa melarang karena itu merupakan hak korban. Namun dirinya tetap membuka pintu jika kasus ini kembali dibicarakan secara kekeluargaan.
Ditambahkannya, dirinya juga merasa sangsi Ir bisa berbuat seperti itu tanpa alasan. Pasalnya, dirinya juga sudah meminta klarifikasi terhadap Ir. Awalnya, Ir tak mengakui perbuatannya, namun setelah dirinya menanyakan untuk kedua kalinya, Ir akhirnya mengakui. Berdasarkan pengakuan Irvan, tindakan tersebut dilakukan karena diolok-olok oleh Elvan saat disuruh masuk ke kelas. “Dia mengolok-olok dengan pantanya,” terang Hasan. Ia sendiri mengenal Irvan sebagai pribadi yang pendiam dan selalu berperilaku baik di sekolah. Jika saat istirahat, teman-temannya berkumpul di kantor, Irvan tetap berada di pos jaga.(SM.08)
×
Berita Terbaru Update