Kota Bima, (SM).- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima sepertinya tidak sepi dari persoalan. Jika beberapa pekan lalu, di Instalasi Farmasi RSUD Bima terjadi kekosongan obat dan reagen (alat diagnose darah,red), kini cairan rontgen pun mengalami kekosongan. Terpaksa, pasien harus melakukan rontgen di RS Muhammadyah Bima. Keluhan pun muncul dari beberapa pasien, selain cairan rontgen kosong, juga mengeluhkan mahalnya biaya ambulance yang dipakai untuk mengantar pasien ke RS Muhammadyah sebesar Rp100 ribu.
Seperti yang dikeluhkan Rini Ariani, bapaknya Arifin sudah beberapa hari terakhir ini di rawat di ruangan Melati VIP dengan kondisi perut membesar. Saat dokter setempat menyarankan untuk di-rontgen, justru cairan rontgen di RSUD Bima tidak ada. “Kita heran, di suruh rontgen, ko’ malah cairan rontgennya tidak ada”, ujarnya saat ditemui di ruangan perawatan bapaknya, Sabtu (20/11).
Saat itu, Rini masih menunggu bapaknya pulang dari rontgen di RS Muhammadyah. Dia mengaku, bapaknya pergi berjam-jam lamanya. Kondisi seperti ini mengusik ketidakpuasan pelayanan RSUD Bima yang mengabaikan sarana dan prasarana. “Dari tadi bapak saya pergi rontgen. Dengar kabarnya sih, antri karena banyak pasien RSUD Bima yang rontgen si RS Muhammadyah Bima”, ungkapnya. Dia mengaku heran dengan pelayanan RSUD Bima, hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh pasien bisa terjadi kekosongan. Padahal, pasien sangat ingin mengetahui derita apa yang sedang dirasakan.
Hal yang sama juga disampaikan, H.Ahmad Hamzah, pria yang menjaga anaknya karena kecelakaan beberapa waktu lalu di kamar VIP IIA tersebut juga mengeluhkan kekosongan cairan rontgen, sehingga dirinya harus membawa anaknya ke RS Muhammadya Bima. Tidak itu saja, dia juga mengeluhkan mahalnya biaya ambulance yang mengantarkan anaknya ke RS Muhammadya Bima sebesar Rp100 ribu.
Menurut dia, RSUD Bima tidak boleh terjadi kekosongan cairan seperti rontgen tersebut, karena sarana seperti itu merupakan kebutuhan yang harus disediakan sejak awal oleh pihak RS. “Kita juga heran ko’ bisa terjadi kekosongan. Mestinya hal-hal seperti itu tidak boleh terjadi”, tegasnya.
Pada pemberitaan sebelumnya, Humas RSUD Bima dr. H. Sucipto mengaku pihak RSUD Bima sudah menerima anggaran sebesar Rp1 miliar untuk pembelian obat dan sarana lain yang dibutuhkan oleh pasien, terutama pasien Jamkesmas. Namun, justru cairan rontgen malah terjadi kekosongan. Apa yang sebenarnya dilakukan RSUD Bima, apakah anggaran sebesar Rp1 miliar belum juga dibelanjakan atau bagaimana?
Ditanya hal tersebut, Sucipto yang dihubungi Sabtu (20/11) enggan berkomentar banyak. Dia mengakui jika anggaran itu sudah ada, namun tidak mengetahui apa kendala hingga masih terjadinya kekosongan. “Untuk lebih jelasnya, silahkan tanyakan langsung di Dirut RSUD Bima dr. Hj. Tini Wijanari, apakah uang itu sudah dibelanjakan atau tidak”, sarannya.
Dirut RSUD Bima dr. Hj. Tini Wijanari yang dihubungi, belum bisa menerima wartawan. Salah seorang stafnya mengaku ibu Dirut sedang menggelar rapat. “Ibu sedang ada rapat. Belum bisa ditemui”, ujar salah seorang staf. (SM.07)