Kota Bima, (SM).- Rasa iba muncul ketika melihat Apriana (1,6 tahun). Betapa tidak, kondisinya yang sangat memperihatinkan dengan perut yang sangat besar memaksa putri pertama Ihman dan Satiamah asal Desa Boke Kecamatan Sape tersebut berbaring di kamar Bedah Wanita RSUD Bima. Setelah mendapatkan perawatan selama tiga hari di RSUD Bima, pihak Rumah Sakit belum bisa memberikan penanganan yang intensif karena kendala sarana dan menyarankan untuk dirujuk ke RSUD Mataram.
Saat dihampiri wartawan Sabtu (20/11), Apriana tidak henti-henti menangis, dia hanya bisa berbaring, selebihnya tidak bisa bergerak karena di tahan dengan perutnya yang sangat besar. Jika merengek ingin duduk, Satiamah mengangkat dan memangkunya. Kini urat-urat perutnya sudah semakin muncul seiring dengan perutnya yang juga kian membesar.
Satiamah saat diwawancarai mengatakan, anak pertamanya tersebut lahir dengan normal di RS. Dinda Jakarta. Namun tiga hari kemudian, dokter memberitahukan bahwa perut Apriana mengembang disertai dengan buang air besar (BAB) yang tidak lancar. Karena di RS Dinda tidak mempunyai sarana menangani derita Apriana, akhirnya di rujuk ke RS. Assobirin. Dua hari di RS tersebut, akhirnya dirujuk lagi ke RS. Tali Asih Tangerang. “Saat pindah di tiga RS, perut Apriana masih kembang kempis namun tidak memberikan hasil yang memuaskan untuk mengurangi derita anak saya. Pernah diupayakan Apriana dioperasi, namun saat hendak dioperasi, selalu perutnya kembali mengecil”, ujar perempuan yang dulunya bekerja di salah satu PT di Jakarta tersebut.
Oleh karena keadaan yang sudah semakin susah, dan dan dirinya sudah tidak bekerja lagi, lanjut Satiama, dirinya berinisiatif membawa anaknya pulang kampung. Setelah berada di kampung halamanannya, perut Apriana bukannya malah mengecil, tetapi kian membesar. “Sekitar dua bulan lalu, perutnya semakin membesar, dan BAB nya semakin tidak lancer”, terang perempuan yang sudah lama di tinggal kerja suaminya di Malaysia itu.
Sejak awal diketahui perut anaknya membengkak dan BAB yang tidak lancar, Satiamah disarankan oleh dokter di Jakarta untuk tidak memberi makan nasi dan bubur, sebab akan semakin membuat pencernaan Apriana tidak berjalan normal. “Mulai lahir hingga kini, anak saya hanya mengkonsumsi susu saja, makanan lain tidak diperbolehkan”, akunya.
Melihat kondisi perut anaknya yang semakin besar, akhirnya Satiamah membawa anaknya di RSUD Bima. Tetapi, setelah berada tiga hari di RSUD Bima, Apriana disarankan untuk dirujuk ke RSU Mataram.
“Katanya sih, fasilitas untuk menyembuhkan anak saya tidak ada, jadi pihak di RSUD Bima mengatakan tidak sanggup mengobati”, ungkap pasien Jamkesmas tersebut dan menambahkan bahwa hasil pemeriksaan dokter RSUD Bima, anaknya mengalami pembengkakan usus.
Di tempat terpisah, dr. I Made Sudarba yang menangani Apriana saat dihubungi tidak ada di tempat. Begitupun Direktur RSUD Bima dr. Hj. Tini Wijanari, saat ditemui salah seorang stafnya mengaku sedang menggelar rapat. (SM.07)