Kota Bima, (SM).- Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-65, ribuan anggota PGRI Kota Bima dan pelajar mulai dari sekolah tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga SMA se-Kota Bima mengikuti jalan santai berhadiah, Ahad (21/11) pagi.
Gerak jalan santai yang dilepas Asisten III Setda Kota Bima Abdul Haris, SH, MH dan Ketua PGRI Kota Bima Drs H.Sudirman mengawali star di depan Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bima khusus untuk para guru dan pelajar SMP-SMA, untuk pelajar SD star di depan kantor Pemerintah Kabupaten Bima dan untuk murid TK star di depan Paruga Nae, sedangkan finis di lapangan Merdeka (Serasuba) Kota Bima.
Ketua PGRI Kota Bima, H.Sudirman kepada Wartawan seusai jalan santai di lapangan Serasuba menyatakan, kegiatan jalan santai ini selain bertujuan mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga, juga bertujuan menjalin tali silaturahmi di antara para guru se Kota Bima dan para pelajar.
Kata dia, dalam menyambut HUT PGRI ke-65 ini, anggota PGRI Kota Bima sebelumnya juga sudah melaksanakan kegiatan olahraga seperti pertandingam bulutangkis, bola voli dan melakukan penghijauan mulai dari Amahami hingga Wadu Mbolo dan yang terakhir acara perpisahan yang akan dilaksanakan di lapangan PU Kota Bima tanggal 25 Nopember 2010.H.Sudirman mengaku, kegiatan bidang olahraga sering dilakukan dalam menyambut HUT PGRI, sebab memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas lebih khusus lagi untuk peningkatan sumber daya anggota PGRI Kota Bima.
Salah seorang anggota PGRI Kota Bima yang enggan disebutkan identitasnya, kepada wartawan mengaku kegiatan semacam memang harus dilakukan sepanjang tahun untuk menjalin tali silaturahmi diantara sesama guru.
Sayangnya, dalam jalan santai ini pantia tidak menyediakan air minum bagi para peserta sehingga banyak para peserta jalan santai memburu warung-warung hanya untuk membeli air minum padahal saat itu rasa haus setelah sampai di finis tak terbendung.
“Bukan masalah peserta tidak mampu beli air minum tapi kasihan para pelajar yang tidak bawa uang, lagi pula setiap kegiatan seprti ini air minum harus ada. Jangan maunya minta uang melulu”, ujarnya.
Ia juga menilai, pembagian kupon undian tidak adil, banyak peserta yang tidak kebagian kupon karena kupon banyak diambil oleh panitia sendiri. “Sekali lagi bukan masalah hadiahnya, tapi saling menghargai atas rasa kebersamaan itu datang dari hal-hal yang kecil seperti halnya pembagian kupon”, sorotnya. (SM.04)